Catatan Harian | Perbaiki Diri

Ya, benar. Tulisan berikut ini berisikan setidaknya loncatan ide yang ingin turut saya bagikan bagi Anda, pembaca. Kenapa, kok gunakan istilah turut? Karena memang isinya bukan murni dari diri saya. Saya hanya seorang pembaca, yang sedang menggali dan kemudian mengikat ulang makna dari apa-apa yang bisa saya indra terhadap buah tangan seorang NLPer nusantara. Saya sedang berusaha, melihat dari kacamata penulis mengenai apa yang ditulisnya. Meskipun, setahu saya, penulis memang tidak gunakan kacamata fisik, tetapi saya berusaha mengenali sudut pandang beliau. Ya, khan pak Teddi?


Pun begitu, beberapa kali muncul bisikan yang mengilhami saya untuk segera goreskan hasil bacaan, agar apa-apa yang kurasa penting dan perlu dipahami dan dihargai atas terbitnya buku hebat ini, memasuki lingkaran pengaruh yang meluaas.

Menariknya, membaca buku ini seolah-olah membuat kita masuk dalam percakapan demi percakapan dengan aliran yang bisa kita kendalikan sendiri kecepatannya.

Kapan terakhir kalinya Anda merasa hanyut dan terlarut saat membaca sesuatu?

Pernahkah Anda sadari, kok bisa-bisanya Anda ikut dalam apa yang Anda baca itu?

Jika di sepanjang bacaan Anda itu, ada beberapa makna dan jawaban yang menurut Anda sesuai dengan pencarian Anda selama ini, kenapa bisa hal itu baru terjadi pada saat membaca sebuah buku tertentu?

3 pertanyaan pemicu keingintahuan saya itu, dan mungkin Anda juga, membuat saya tambah bertanya-tanya, apakah memang ini yang hendak diniatkan oleh sang penulis. Betapa tidak, sebagai seorang pembaca, tentunya saja, sifat dan sikap keingintahuan yang tulus menjadi mutlak adanya. Dan jika pun, pembaca buku ini ialah pribadi yang berpengetahuan luas dan dalam tentang isi buku ini, justru itu membuatnya makin menikmati alunan demi alunan yang ia rasakan di setiap lembar halaman buku ini. Bila memang dugaan saya ini tepat, sungguhkah ini yang disebut sebagai unconscious installation? Benar tidaknya tuduhan saya ini, pada akhirnya tidak lebih penting ketimbang membaca buku ini, mempraktekkan hasil pengetahuan dari buku ini, dan terakhir, seperti yang dituliskan sang penulis buku ini spesial buat saya berikut tanda-tangannya, adalah memperoleh makna dari apa-apa yang terjadi secara optimal di keseharian. Terjadi, artinya membuat jadi nyata. Ada faktor penyebabnya, yakni tindakan. Karena bertindaklah, kita mendapatkan pengetahuan ketiga. Yakni kebijaksanaan. Konon, simbah saya bilang begitu.

Penggunaan judul ”NLP: The Art of Enjoying Life” pastilah bukan tanpa alasan. Bagi penulis, itu adalah tema utama dari yang penulis temukan seiring perjalanan hidupnya berinteraksi menggunakan NLP. Sang penulis akui, selama 2,5 tahun buku ini disusunnya, bermula dari niatnya untuk menggenapi fase tertinggi seorang pembelajar, NLP utamanya. Yaitu, tahap berbagi dan mengajar. Terlebih, begitu Anda tenggelam dalam 400-an lembaran buku ini, penulis turut membagikan pengalamannya dalam “membantu sesama mengerti”, entah di halaman berapa tepatnya, Anda berhasil menemukannya.

Gairah membaca buku NLP ini, dimulai dari gerbang pertanyaan. “Apa sih NLP itu?” Bagi pemula atau awam dengan NLP (seperti saya, misalnya), dan yang ahli sekalipun, pertanyaan pembuka bab pertama ini, adalah kunci yang membukakan cakrawala berpikir yang menyeluruh tentang NLP. Ya, memang, sembari membaca buku ini, penulis menyatakan betapa tulisannya ini merupakan pemahaman seorang Teddi terhadap ”buku manual” yang disusun oleh NLP. Itulah kenapa, para penggagas NLP selalu melakukan perbaikan dan evolusi, karena memang itu belumlah selesai. Dan, bisa jadi, NLP di masa depan, berbeda dengan NLP saat ini. Tetapi, untuk sementara ini, seperti inilah NLP.

”Seperti ini? Seperti apa sih, tepatnya?” tanya Anda.
Seperti yang Teddi tuliskan pengertiannya di 12 bab, di buku ini.

Sebagai alumni psikologi, Teddi mengerti, betapa masih ada keingintahuan; apa perbedaan NLP dibanding teknik-teknik psikologi yang lain.

Penulis temukan 5 perbedaan mendasar. Yakni:

1) NLP diformulasikan dari proses modelling terhadap pribadi-pribadi yang excellent di bidangnya. Maka, tepat kiranya, modelling adalah induk dari NLP. Bahasan lebih detail, ada di bab 11.
2) NLP selalu memakai sudut pandang yang menyeluruh (holistik) dalam memahami dan menyelesaikan masalah. Untuk pemahaman yang tepat dalam memandang sebuah masalah, NLP mengokohkan pondasi berpikir bagi praktisi NLP dengan menganut semacam UUD (Undang-Undang Dasar) yang disebut dengan presupposition.

3) NLP punya strategi yang lebih sistematis untuk membantu Anda berubah. Mengenai strategi itu sendiri, yang berupa urut-urutan pola pikir, rasa, dan bertindak, tentu mudah Anda temui seiring petualangan Anda membaca buku ini. Termasuk strategi mengenali strategi seseorang yang ekselen (alias modelling itu sendiri). Maka, tak mengherankan, begitu Anda perhatikan di sampul buku ini tertera testimoni bahwa inilah buku yang bisa membuat Anda jadi Practitioner dan Master Practitioner NLP, sekaligus.

4) NLP dikenal sebagai sebuah pendekatan yang menawarkan hasil akhir yang relatif cepat. Bagaimana bisa? Bisa banget, ada begitu banyak contoh nyata tertera di buku ini. Dan kita pun bisa memodelnya, begitu kita praktekkan apa-apa yang kita pelajari dari buku ini.

5) Dalam proses intervensinya, NLP berfokus pada struktur dari pengalaman dan bukan pada isinya (contentnya).

Sampai di sini, penulis mengajak pembaca untuk kemudian menginstall attitude seorang NLPer. Di bab-bab awal buku ini, Teddi menyuguhkan urutan kesejarahan NLP, bagaimana cerita munculnya NLP, apa saja yang dilakukan NLP hingga saat ini, pilar-pilar NLP, termasuk cara berpikir orang NLP, seperti yang ditulis di atas yakni presupposition. Tak tanggung-tanggung, penulis jabarkan 20 UUD bagi NLPer itu, lengkap dengan ringkasan praktek keseharian. Penasaran? Lah kok bisa sama ya, perasaan kita?

Melengkapi pengertian dasar tentang NLP, Teddi menyuguhkan bahwa NLP adalah perubahan, NLP adalah pembelajaran, dan pada akhirnya NLP adalah pertumbuhan+perkembangan. Gara-gara itulah, mudah bagi kita memetik makna dari uraian level pembelajaran. Termasuk cara, bagaimana persisnya kita bisa mencapai level pembelajaran unconscious competence level dan mastery level. Yaitu dengan senantiasa berproses dalam siklus KNOWING – PRACTICING – Get MEANING.

KNOWING
Pembelajaran selalu diawali dari proses mengetahui apa yang akan dipelajari. Fase ini membantu kita memahami gambaran besar dan utuh dari sebuah keterampilan NLP yang kita pelajari.

PRACTICING
NLP adalah skill, berorientasi pada cara dan bukan pada teori. Karenanya, pengetahuan yang dimiliki baru benar-benar bermanfaat saat ia dilatih dan dipraktekkan. Uniknya, semula Teddi meyakini bahwa jam terbang adalah kunci dari tajamnya keahlian. Ternyata, tidak hanya itu. Karena ada istilah jam penghayatan yang sempat didengar dari dosen penulis. Apakah itu?

Get MEANING
Manusia adalah makhluk bermakna, mengkait-kaitkan arti dari apa yang terjadi. Maksudnya, kita mencari kaitan antara kejadian (entah di masa lalu, yang sedang terjadi, atau yang akan datang) dan maknanya bagi diri kita. Menurut penulis, hanya ketika kita terus berlatih hingga menemukan makna dari apa yang kita lakukan, maka level pembelajaran kita akan naik dari unconscious competence menjadi mastery. Kita tidak saja dapat melakukan keahlian NLP kita tanpa perlu berpikir secara sadar, kita bahkan sanggup menguraikan satu per satu langkah demi langkah dari setiap keterampilan yang kita miliki. Akibatnya, kita akan memiliki keterampilan baru, membagi keahlian kita kepada sesama. Siklus pembelajaran ini, KNOWING – PRACTICING – Get MEANING, tidak akan pernah berhenti berputar. Yang kita perlukan terhadap siklus ini adalah mengarahkannya ke tujuan yang kita inginkan.
Bagaimana jika tidak kita arahkan? Penulis menjawab, bahwa ia akan tetap berputar, untuk mempelajari hal-hal yang disodorkan kepada kita, positif ataupun negatif.

Setelah pembahasan siklus pembelajaran tersebut, penulis memandu kita mengenali diri kita sebagai manusia lebih jauh, dalam sub-bab model dunia manusia. Sebagaimana fungsi sebuah model, ia laksana peta, yang belum tentu benar. Ia hanyalah representasi, perwakilan dalam bentuk tampilan visual, dari kenyataan, dan sejatinya memang tidak sama dengan kenyataan itu sendiri. Model ini bermula dari keingintahuan para pendiri awal NLP mengenai cara kerja pikiran-perasaan manusia.

Dalam ”Model Dunia Manusia ala NLP”, proses dimulai dari kejadian yang kita alami. Kejadian itu berupa informasi yang masuk melalui saluran indrawi kita, menuju pikiran. Di buku NLP ini sendiri, penulis membahas bagian khusus mengenai sistem indrawi manusia. Terutama di bab kedua.

Informasi itu lantas diteruskan menjadi representasi internal, yakni perwujudan ulang sebuah kejadian menjadi sebuah pengalaman dalam diri kita. Jika informasi berasal dari kanal penglihatan ia akan menjadi gambar, jika dari pendengaran menjadi suara, jika dari perabaan atau penciuman atau pencecapan menjadi sensasi rasa. Hanya saja, sebelum ia benar-benar menjadi sebuah representasi internal, rupanya pikiran-perasaan kita memiliki beberapa lapis saringan (filter) yang menjadikan sebuah informasi tidak lagi utuh. Proses filterisasi informasi itu adalah penghapusan, penyamarataan, dan pendistorsian.

Tentunya, petualangan menikmati hidup masih bersambung hingga bab-bab berikutnya di buku ini. Seiring dengan panduan penulis, kita diajak menyelami diri kita sendiri, dunia yang terjadi di sekitar kita, berikut beragam model dan teknik NLP yang membantu kita lebih menikmati hidup.

Jika pun, penjelasan saya melalui tulisan ini masih membuat pembaca penasaran, atau malah mupeng (muka pengen), ya itu resiko yang sama-sama bisa kita nikmati. Lah judul bukunya saja, ”Seni Menikmati Hidup” kok ya? Berarti kita pun siap dengan resiko dari membaca ulasan singkat saya tentang buku perdana pak Teddi ini. Kalaupun ada diantara pembaca yang ingin kenal lebih dekat dengan sang penulis, berdiskusi entah dengan cara atau media apa, seperti yang tertulis di halaman terakhir di buku ini, silakan kirim email ke tpyuliawan@gmail.com atau 0811.975.927

Oh iya, begitu ada waktu Anda berjumpa atau berdiskusi atau bertatap muka dengan penulis ”NLP: The Art of Enjoying Life” ini, nitip salam buat beliau ya. Saran cesplengnya manjur, membuat saya tambah keranjingan menulis, sejak simulasi di kelas pelatihannya ”The Art of Self Mastery”. Dan sebagaimana ucapan selamat yang ditulis oleh seorang Guru NLP Nusantara di kata pengantar buku ini, seperti beliau pun, saya juga menunggu-nunggu buku pak Teddi selanjutnya.

Bila selama ini ada yang masih bertanya-tanya, ”Mungkinkah saya mempelajari NLP lewat buku?” Begitu kita bisa memetik pesan-pesan intelektual dari sebuah buku yang kita baca, mempraktekkannya serta belajar dari umpan baliknya, jawabannya adalah IYA. Kalau tidak, pelatihan adalah jawabannya.

Semoga berguna.
Gitu ya?

Advertisements

Comments on: "NLP Jalanan ala Nusantara" (2)

  1. gak sekalian ikut mas ntar kan dapat sertifikat NLP… 😆

  2. Sudah ada kok mas, sertifikatnya di rumah. Sampean mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: